Pilih Bahasa

Selasa, 23 Juni 2015

Umar menikahkan anaknya Ashim dengan anak penjual susu

Masih ingatkah Anda, kisah seorang wanita penjual susu pada masa Khalifah Umar bin Khattab? Kisah yang telah mengalirkan berbagai inspirasi kepada ummat Islam.  Kisah yang sangat sarat dengan warna keimanan dan semangat ketakwaan.
Malam hari…

Kota Madinah terlihat sepi dari lalu lalang orang. Hawa musim dingin yang menyayat pori-pori kulit membuat setiap orang enggan untuk keluar rumah. Apalagi sudah lewat tengah malam. Tapi tidak begitu halnya dengan khalifah yang pertama kali diberi gelar ‘Amirul Mukminin’ ini. Amanah ummat yang dibebankan diatas pundaknya justru membuat kedua matanya enggan untuk sekedar terpejam di malam hari. Rakyatku… Rakyatku! Iapun bangkit dan beranjak keluar menyusuri setiap lorong-lorong Madinah, untuk melihat kondisi rakyatnya. Begitulah kebiasaan unik Khalifah Umar bin Khattab dalam menghabiskan sebagian waktu malamnya.
Lama ia berjalan ditemani seorang pembantunya. Rasa lelah mulai menggelayuti tubuhnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk istirahat sejenak. Ia bersandar melepas lelah di sebuah dind-ing rumah sederhana di sebuah perkampungan di Madinah. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan percaka-pan antara seorang ibu dengan puterinya, pemilik rumah tersebut.
“Campurkan air pada susu yang mau kita jual, nak!” kata ibu kepada puterinya. “Bagaimana mungkin aku mencampurnya dengan air, bu! Bukankah Amirul Mukminin telah melarang para penjual susu untuk melakukan itu???”
“Penjual-penjual susu yang lain juga mencampur susu mereka dengan air. Sudahlah, nak, campur saja! Amirul Mukminin pasti tidak tahu apa yang kita lakukan!”
“Bu, jika Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, maka Tuhan Amirul Mukminin tentu menge-tahuinya…”
Umar bin Khattab tak kuasa menahan air matanya ketika mendengar ungkapan sang anak kepada ibunya. Ungkapan yang sederhana, tapi keluar dari jiwa yang bertakwa, sehingga mengun-dang air mata orang yang mendengarnya.  Air mata takwa,  dari jiwa yang takwa, ketika mendengar ungkapan ketakwaan.
Umar bin Khattab gembira mendengar kata-kata itu. Ia bergegas menuju masjid untuk mela-kukan shalat subuh,  kemudian pulang ke rumah dan memanggil salah satu puteranya, ‘Ashim, lalu memintanya untuk menimba informasi tentang keluarga penjual susu tersebut.
‘Ashim datang menemui Umar bin Khattab, menyampaikan semua informasi tentang perempuan penjual susu dan putrinya. Kemudian Umar menceritakan percakapan antara mereka yang didengarnya tadi pagi menjelang fajar. Ia menyuruh ‘Ashim untuk menikah dengan puteri penjual susu itu.
“Pergilah kepadanya dan nikahilah ia, nak! Aku melihat ia adalah wanita yang diberkahi. Mudah-mudahan suatu saat nanti ia akan melahirkan orang hebat yang akan memimpin Arab !”
Keduanya pun akhirnya menikah dan dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Laila, atau biasa dipanggil dengan Ummu ‘Ashim. Mereka mendidik Laila dengan baik, dalam suasana keluarga yang kental dengan nilai-nilai Islam, sampai ia tumbuh menjadi seorang gadis yang memahami dan mengamalkan Islam dalam hidupnya.
Laila menikah dengan putera khalifah Daulah Umawiyah yang keempat, namanya Abdul Aziz. Dari perkawinannya itulah lahir seorang anak yang nantinya akan memenuhi dunia dengan keadilan. Dialah Umar bin Abdul Aziz.

Ini adalah sebuah kisah perjalanan sejarah yang panjang tentang seorang wanita yang memiliki nilai agung, yaitu muroqobatullah. Yang ada dalam dirinya hanyalah dia selalu tahu bahwa Allah selalu mengawasinya.  Ini merupakan pelajaran sangat mahal yang diberikan oleh Umar bin Abdul Aziz sebagai keturunan dari orang-orang yang memiliki nilai muroqobatullah.
#
Kisah diatas adalah cuplikan dari biografi khalifah Umar bin Abdul Aziz. Anda bisa mendownloadnya disini. Semoga bermanfaat.

Mengadapi istri marah by Umar bin Khattab

BISMILLAH......
Dalam beberapa riwayat, cerita mengenai kepemimpinan Umar bin Khattab yang patut diteladani umat tak diragukan lagi. Salah satunya ketika khalifah ini tengah menghadapi istrinya.

Alkisah, ada seorang lelaki yang ingin curhat mengenai masalah rumah tangganya kepada Umar bin Khattab. Lelaki itu mengeluh dengan tabiat istrinya yang kerap marah-marah tanpa alasan yang jelas.

Sayangnya, acap kali berkunjung ke rumah Umar, lelaki itu tak pernah bertemu secara langsung. Setiap lelaki itu datang, Umar sudah lebih dahulu keluar rumah.

Dalam kunjungan selanjutnya, kebetulan Umar tengah berada di kediamannya. Namun belum sampai masuk rumah Umar, langkah lelaki itu terhenti sejenak. Setelah tanpa sengaja mendengar Umar tengah di marahi oleh istrinya.

"Bagaimana denganku, seorang Amirul Mukminin saja seperti itu?" ucap lelaki itu dalam hati seraya memikirkan masalahnya.

Tak berapa lama, lelaki itu segera pergi meninggalkan rumah Umar. Meski begitu, Umar telah lebih dulu mengetahui kedatangan lelaki tersebut.

"Ada apa keperluanmu?" seru Umar.

"Amirul Mukminin, aku datang untuk mengadukan perangai istriku dan sikapnya yang buruk kepadaku. Tetapi aku mendengar hal yang sama pada istrimu," kata lelaki itu.

Apa yang dilakukan Umar setelah mendengar perkataan lelaki itu? Umar malahan memberikan pengalaman hidupnya saat menghadapi kriteria istri seperti itu.

"Wahai, saudaraku, bagaimanapun aku tetap sabar menghadapi perbuatannya karena itu memang kewajibanku."

Bahkan, Umar mengatakan, istrinya merupakan sosok penting dibalik kehidupannya di dunia. "Bagaimana aku bisa marah kepada istriku karena istriku yang membuat aku tentram di sampingnya."

Umar malah memberikan kiat menghadapi istri yang mempunyai karakter sikap demikian. "Wahai, Amirul Mukminin, istriku juga demikian," kata lelaki itu.

"Maka, hendaknya engkau mampu menahan diri karena yakinlah hal tersebut hanya sebentar saja," kata Umar.