Pilih Bahasa

Senin, 27 April 2015

Zikir untuk Keselamatan Bayi yang akan Dilahirkan

KONDISI saat melahirkan merupakan kondisi yang menggelisahkan dan mengkhawatirkan. Rasulullah telah memberi petunjuk kepada Asma’ binti Umais r.a. dengan bersabda, “Maukah engkau aku ajari beberapa kata yang bisa kau ucapkan saat dalam kekhawatiran? (Ucapkanlah):
“Allah, Allah Rabbku. Aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
Saat-saat persalinan adalah saat-sat yang paling berat bagi ibu dan bayi karena di dalamnya terdapat kesusahan dan ujian. Saat itu, ibu diuji dengan ujian yang sangat berat. Karenanya, Rasulullah mengajarkan sebuah doa kepada kita yang dapat diucapkan pada saat-saat seperti ini. Abu Bakrah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Doa orang yang ditimpa ketakutan ialah:
‘Ya Allah, hanya rahmat (kasih sayang)-Mu lah yang kuharap. Maka itu, jangan Engkau biarkan diriku sendiri sekejap mata pun dan perbaikilah semua urusanku. Tiada ialah selain Engkau.’
Beliau juga bersabda, “Apabila seorang hamba yang ditimpa kesulitan dan kesedihan berdoa:
‘Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu yang laki-laki dan anak hamba-Mu yang perempuan. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Keputusan-Mu pada diriku pasti terjadi dan adilah ketentuan-Mu pada diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama milik-Mu yang memohon kepada-Mu dengan segala nama milik-Mu yang Engkau sebutkan untuk diri-Mu atau Engkau turunkan  dalam kitab-Mu atau Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu atau masih dalam perkara gaib yang hanya Engkau sendiri yang mengetahuinya. Jadikanlah Al-Qur’an penyejuk hatiku, cahaya penglihatanku, pembebas kesedihanku, dan pengusir kegelisahanku,’
Allah pasti akan menghilangkan kesulitan dan kesedihannya dan menggantikannya dengan kemudahan.”
Sumber: Islam Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi/Karya: Syaikh Jamal Abdurrahman/Penerbit: Aqwam Jembatan Ilmu

Saling Cintai dan Mencintai karena Allah

Bismillah......
CINTA merupakan perasaan yang lahir dari naluri yang ada dalam diri manusia. Kita tidak bisa menolak keberadaannya. Sebab perasaan cinta dan naluri tersebut sesuatu yang sudah melekat pada kita. Sebagaimana halnya Allah telah memberikan khasiat api yang mampu membakar, maka Allah juga telah menyematkan khasiat pada manusia, salah satunya yakni mampu mencintai. Hanya saja, yang perlu jadi pembahasan selanjutnya adalah mengenai apa alasan yang seharusnya menjadi penyebab manusia memiliki perasaan cinta? Siapa saja yang harus dicintai? Bagaimana seharusnya memperlakukan orang yang dicinta?
Tanpa adanya bimbingan wahyu, manusia akan mencintai apa saja berdasarkan keinginan dan hawa nafsunya. Jika kita mencoba mengindra fakta di sekelililng kita, banyak di antara mereka yang saling mencintai dikarenakan faktor fisik, misalkan mencintai karena ketampanan atau kecantikannya. Ada juga yang saling mencintai karena faktor materi seperti kekayaan atau ketenaran. Selain itu, ada juga yang saling mencintai dikarenakan sedang memiliki kepentingan yang sama, di mana kepentingan tersebut mampu melahirkan manfaat bagi mereka.
Perasaan berdasarkan alasan seperti yang dicontohkan di atas, merupakan perasaan cinta yang semu. Ketika perasaan tersebut muncul, maka seseorang akan bingung bagaimana memperlakukan perasaan tersebut. Ia tidak memiliki panduan untuk mengatur perasaannya, sehingga ia pun menciptakan aturan sendiri dengan kebodohan dan keterbatasannya sebagai manusia. Tentu hal ini hanya akan melahirkan keburukan dan kesengsaraan baginya.
Islam, sebagai agama yang sempurna ajarannya, telah mengatur tentang perasaan cinta ini. Terkait alasan yang seharusnya jadi penyebab seseorang saling mencintai, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya agar saling mencintai karena Allah. Arti cinta karena Allah adalah mencintai hamba Allah karena keimanannya kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesunguhnya kelak di hari kiamat Allah akan berfirman, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku,”(HR. Muslim).
Dalam hadits lain, Rasullulah SAW bersabda,“Siapa pun tidak akan merasakan manisnya iman, hingga ia mencintai seseorang hanya karena Allah semata,” (HR. Bukhari).
Alasan tersebut sangat jelas menunjukkan pada kita siapa saja yang layak untuk dicintai. Selain itu, perasaan yang berlandaskan kecintaan kepada Allah bukanlah perasaan semu. Keberadannya sungguh memberi keuntungan yang besar bagi manusia, salah satunya bahwa ia akan mendapat naungan Allah di hari kiamat.